Wisata Budaya dan Alam Tanjabtim Dilirik

Muarasabak, AP – Kabupaten Tanjung Jabung Timur (Tanjabtim) memiliki potensi wisata budaya yang unik serta wisata alam yang berskala dunia yang bisa menarik minat wisatawan manca negara. Namun belum terekspose keluar, ibarat permata yang belum dipoles.

Hal itu disampaikan Direktor Exotik Java Trails dari kota Bandung, Daniel G Nugraha, salah satu peserta Fun Trip susur sungai dalam rangka Festival Mandi Syafar yang digelar Dinas Parbudpora Tanjabtim beberapa waktu lalu.

“Tanjabtim ini punya potensi budaya unik dan bagus. Dia juga punya potensi alam yang sudah skala dunia dikenalnya, seperti Taman Nasional Berbak dan Pantai Cemara. Ada wisata sejarahnya juga makam Rang Kayo Hitam. Itu semua kalau kita ramu menjadi satu paket, saya yakin ini akan cepat dikenal ke dunia. Kita bicaranya bukan pariwisata nasional saja, wisatawan internasional yang mencari ragam flora dan fauna yang unik yang susah kita dapatkan, ternyata di sini masih ada dan masih eksis,” katanya.

Dilanjutkan Daniel, jarak antara satu titik destinasi ke titik lain sebenaranya dekat, kelemahannya saja bagaimana menyambungkan satu titik ke titik lain pada akhirnya wisatawan bisa bergerak dengan mudah.

Selain itu kata Daniel, kelemahannya lagi dari sisi publikasi. Potensi pariwasata Tanjabtim yang kurang terekspose keluar. “Kalaupun ada eksposenya, saya lihat lebih banyak hanya untuk masyarakat Jambi aja, padahal marketnya lebih luas ada di luar Jambi. Misalnya Jakarta hanya satu jam penerbangan ke Jambi. Sesuatu yang gak kita ekspose, gak kita kemas, tidak kita bawa keluar informasinya potensinya kayanya susah,” ujarnya.

“Sudah saatnya bloger, media asing, dan Alhamdulillah kita turut¬† serta berasal dari berbagai daerah itu. Tujuanya untuk membawa informasi ini, agar permata yang belum dipoles ini bisa diketahui di luar,” tambahnya.

Menurut Daniel, potensi wisata Tanjabtim yang paling diminati wisatawan manca negara adalah Biota Lautnya. Ada Hutan Mangrope, ada Buaya, ada Harimau, itu yang susah sekali ditemukan di daerah lain. “Di Jawa sudah hilang, paling mudah kita mau lihat Buaya itu dikebun binatang. Tapi di sini mudah sekali menemukanya dihabitat aslinya,” tukasnya.(fni)

Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.