Usman Ermulan Usul ke Presiden Tiadakan Pungutan Ekspor CPO

Jambi, AP – Ketua Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Provinsi Jambi, Drs. H. Usman Ermulan , MM meminta kepada Pemerintah pusat untuk meniadakan pungutan ekspor minyak mentah kelapa sawit (CPO).

Hal itu bertujuan untuk mengenjot nilai ekspor Indonesia demi mendorong perekonomian masyarakat. Karena saat ini harga TBS ditingkat petani terus mengalami anjlok, bahkan sejak sepekan terakhir harga TBS ditingkat petani tak lebih dari Rp500 perkilo.

“Saya usul kepemerintah pusat untuk pungutan ekspor CPO ditiadakan, supaya harga TBS ini bisa naik dan kita bisa bersaing dipasaran ekspor dunia. Dan usulan itu sudah saya sampaikan kepresiden melalui Sekjen HKTI untuk menyampaikam ke Muldoko agar dibisikan Presiden,” ujarnya Mantan Anggota DPR RI, Rabu (28/11/2018).

Sebelumnya pemerintah memungut exspor CPO sebesar 50 USD permetrik ton. Mantan Bupati Tanjung Jabung Barat ini menilai dengan kondisi harga TBS yang tidak menguntungkan bagi petani sawit saat ini tidak tepat jika pemerintah melakukan pemungutan terhadap ekspor CPO.

“Karena ada 20 juta lebih para petani di Indonesia yang menggantungkan hidupnya dari hasil sawit. Bayangkan kalo kita hitung dengan kurs Rp14.500 artinya Rp 750 perkilo gram CPO dikenakan pungutan ekspor, sehingga dengan demikian harga cukup berat untuk bersaing di luar,” paparnya.

Sedangkan saat ini, khususnya di Jambi sendiri sebagian dari pabrik kelapa sawit sudah tidak lagi menerima TBS dari petani, hal itu dikarenakan rendahnya harga CPO.

“Sekarang aja stoknya di Jambi ada 40 hingga 50 ribu ton stok CPO hal itu akibat adanya biaya punggutan ekspor, jika itu tidak ada lagi harga TBS bisa naik yang diterima petani,” tukasnya.

Memang diakui oleh Usman Ermulan bahwa tujuan dari pemerintah memungut exspor CPO tersebut adalah untuk memperbaiki kebun petani, kemudian untuk biaya pelaksanaan bio diesel.

Tetapi kondisi saat ini harga TBS petani tidak lagi menjanjikan dan pemerintah harus mengambil sikap agar adanya nilai ekonomi. (Bdh)

Ruangan komen telah ditutup.