Pemkot Korbankan PKL Demi Piala Adipura

Jambi – Tokoh Masyarakat (Tomas) Jambi, Drs.H.Usman Ermulan, MM menilai Pemerintah Kota (Pemkot) Jambi mengorbankan Pedagang Kaki Lima (PKL) demi untuk memperoleh Piala Adipura, penilaian itu menurut Usman Ermulan bahwa adanya surat edaran yang dikeluarkan Pemkot Jambi melalui Camat Pasar Kota Jambi dalam rangka penilaian Piala Adipura tahun 2018, Menurutnya ini merupakan sikap yang tidak pro rakyat.

Pasalnya, surat yang dikeluarkan dengan nomor 300/149/Trantib pada 12 Maret lalu dengan maksud untuk menghentikan aktifitas sementara bagi pedagang kaki lima selama satu minggu sejak diterbitkan hingga 18 Maret 2018.

Tidak itu saja, penghentian aktifitas para pedagang juga bertujuan menambah nilai bobot dalam meraih Piala Adipura dengan kategori kota besar dengan harapan kerja sama para pihak PKL sebagai kawasan titik penilaian.

Bahkan, dalam surat edaran yang diterima oleh pedagang kaki lima di kawasan Pasar Kota Jambi tersebut ditegaskan apa bila tidak mengindahkan imbauan tersebut maka akan diambil tindakan tegas.

“Piala Adipura itu pada dasarnya diperoleh tidak mengorbankan para pedagang atau rakyat,” tegas mantan anggota DPR-RI tiga priode ini, Senin (19/03/2018).

Akibatnya, banyak menimbulkan pertanyaan atas diraihnya Piala Adipura secara berturut-berturut oleh Pemerintah Kota Jambi selama ini.

Dikatakan oleh Mantan Bupati Kabupaten Tanjabar dua priode ini, jangan hanya karena semata-semata mengejar Piala Adipura masyarakat yang dikorbankan.

“Okelah saat penilaian adipura PKL tidak berjualan, tetapi pemerintah harus memberikan solusi, PKL itu mau makan, gimana memenuhi kebutuhan mereka,” ujarnya.

Disarankannya, sebaiknya pemerintah kembali membangkitkan rasa gotong royong ditengah masyarakat disetiap kelurahan dengan melibatkan berbagai organisasi, seperti pada pemerintahan walikota Azhar, DS dengan melibatkam AMPI (Angkatan Muda Pembaharuan Indonesia).

Hal itu diharapkan dapat memupuK rasa gotong royong yang tinggi dan mempunyai rasa tanggung jawab atas kebersihan lingkungan sehingga membudaya ditengah masyarakat.

Hatta Arifin, tokoh masyarakat Jambi lainnya mengatakan seharusnya keberhasilan perolehan Piala Adipura itu turut dirasakan oleh masyarakat, bukan mengorbankan masyarakat dalam meraih piala tersebut.

“Saya juga mempertanyakan apa indikator penilaian tersebut, padahal masih banyak di kawasan Kota Jambi tidak tertata dengan baik, seperti masalah sampah yang menumpuk ditengah kota,” katanya.

Seharusnya, saran Hatta, Pemerintah Kota Jambi memberikan kesadaran tinggi kepada masyarakat tentang pentingnya lingkungan rapi dan bersih.

“Bukan dengan cara menghentikan para PKL saat dilakukan penilaian Adipura. Itu tidak baik. Jadi sebaiknya masyarakat dilibatkan untuk sadar dalam menjaga lingkungan bersih. Itu baru penilaian yang baik,” ungkapnya.

Selain itu, Hatta berharap, Pemerintah Kota Jambi kembali menggalakan minggu gotong-royong yang dilaksanakan setiap tingkat RT. “Ini sangat efektif untuk menjaga lingkungan dalam pinilaian Adipura, karena masyarakat dilibatkan dalam meraih Adipura,” tandasnya. (Tim)

Ruangan komen telah ditutup.