PA Kerinci Minta Penegak Hukum Kaloberasi Tutup PETI

Kerinci, AP – Terkait adanya dugaan aktivitas Penambangan Emas Tanpa Izin (PETI) di kawasan hutan lindung diwilayah Kecamatan Batang Merangin, Kabupaten Kerinci yang mulai marak, Pecinta Alam (PA) Kerinci angkat bicara.

PA Kerinci meminta kepada pihak terkait, diantaranya Taman Nasional Kerinci Siblat (TNKS), Polda Jambi, dan Polres Kerinci, harus benar-benar bisa berkolaborasi dan kerja keras untuk memberantas PETI. Pandangan PA, jika tidak secepatnya ditindak, maka rakyat Kerinci nanti akan merasakan akibatnya.

“Tindak tegas para pembalak dan peti, tumpas habis di bumi sakti ini, kami segenap pengiat alam siap membantu jika di butuhkan,” ungkap Jose, salah seorang Pecinta Alam Katulistiwa Kerinci – Sungaipenuh, Selasa (24/04).

Dijelaskannya, bahwa pada akhir tahun lalu dirinya bersama beberapa tim pernah di tugaskan untuk melakukan cek kawasan ulayat adat depati Muaro Langkap dari Desa Tamiai, masuk hingga menembus batas keluar di Desa Penetai selama 4 malam 5 hari di dampingi oleh 4 orang masyarakat tamiai dan ninik mamak Tamiai.

“Benar, kala itu kami dan saya sendiri bertemu dengan beberapa orang yang sedang melakukan aktifitas PETI, dengan peralatan yang masih menggunakan mesin dompeng,” ujarnya.

Pengakuan dia, saat itu sambung dirinya, sedikit bertanya kepada oknum penambang. Dan ternyata, yang melakukan aktivitas PETI bukan hanya dari daerah tetangga saja, akan tetapi yang melakukan aktifitas tersebut, ada para pekerja dari luar Pulau. “Yang merusak wilayah hutan lindung di Tamiai bukan warga kita, akan tetapi warga tetangga dan malahan dari luar Pulau seperti Kalimantan dan Papua ,” ungkapnya.

Menurut Jose, dalam permaslahan ini tidak bisa menyalahkan pihak mana, andai saja kawasan tersebut pihak TNKS mau bermitra dengan pengurus adat untuk pengelolaannya. Dirinya merasa bisa mengurangi hal tersebut, karna warga Kerinci dan desa tetangga tahu bahwa hukum adat itu tidak bisa di remehkan. “Kemitraan yang saya sebut antara TNKS dan adat adalah berbentuk skema kemitraan pengelolaan kawasan tersebut, dan kita tahu selama ini TNKS yang wilayah nya 1,4 juta hektare tidak semua bisa terkoordinir atau terpantau, dengan minimnya petugas. Jadi pola tersebut, sangat pas untuk membantu pengawasan dan pengelolaan kawasan,” ucapnya.

Untuk itu mereka mengaskan, bahwa sesuai uu no 18 tahun 2013 tentang pemberantasan perusakan hutan, pihak terkait harus betul betul kerja keras karna tidak bisa di anggap sepele. Hutan adalah penyangga dan paru paru dunia, kalo rusak kita sudah melihat contoh longsor, banjir di mana – mana semua akibat hutan yg sudah rusak. “pihak penegak hukum dan instansi terkait, berperan penting untuk mengakhiri semua ini dengan turut memantau kerusakan hutan yang terjadi. Tindak tegas para perusak hutan, peti, bagai manapun juga pihak penegak hukum dan instansi terkait juga bertanggung jawab atas kerusakan ini, tangkap tampa kompromi, hutan lestari bumi asri,” pungkasnya.

Sebelumnya, hampir kawasan hutan lindung diwilayah Kecamatan Batang Merangin, Kabupaten Kerinci mulai marak dilakukan aktivitas PETI.

Tak tanggung-tanggung, bahkan aktivitas tersebut telah merusak hampir 20 Persen hutan lindung di Kecamatan Batang Merangin. Padahal, beberapa waktu lalu sejumlah penambang dari Perentak diamankan oleh pihak Polres Kerinci. Namun, hal tersebut tak membuat efek jera dikarenakan hanya ditahan beberapa hari, karena mereka mengancam memblokir jalan.

Informasi yang berhasil dihimpun di lapangan, penambangan ilegal ini sudah masuk ke kawasan hutan lindung yaitu di daerah Penetai Lama, Kecamatan Batang Merangin dan hutan disekitaran sudah mulai rusak.

Kepala Seksi Pengawasan Balai Besar Taman Nasional Kerinci Seblat (BBTNKS) Wilayah I, Nurhamidi, juga mengakui bahwa adanya penambangan ilegal yang sudah masuk wilayah TNKS. “Penambangan sudah cukup lama, dimana sebelumnya pihaknya bersama dengan Polres Kerinci telah melakukan razia dan berhasil mengamankan sejumlah warga Perentak, karena munculnya komplik, penambangan kembali dilanjutkan mereka,” ujarnya.

Saat ini, lanjut Nurhamidi, pihaknya masih melakukan investigasi lanjutan, mencari informasi dan berkoordinasi dengan TNKS Merangin. Namun untuk tindakan, nanti tergantung dengan atasan. “Alat berat masuk dari wilayah hutan Perentak, Merangin, yang melakukan penambangan disana adalah warga Perentak bukan warga Kerinci,” cetusnya.

Kapolres Kerinci AKBP Dwi Mulyanto mengatakan akan menindaklanjuti adanya informasi tersebut. Bahkan sebelumnya Polres Kerinci sudah pernah menindak oknum PETI di kawasan Muara Emat, Batang Merangin.

Selain itu aparat kepolisian juga sudah mengamankan satu unit exavator yang sedang melakukan kegiatan PETI dan emas hasil tambang liar dengan lokasi yang sudah di – polisi line. Sedangkan barang bukti yang diamankan diantaranya emas seberat dua gram dalam botol berisi air dibungkus plastik putih. “Tentu akan terus kita tindak terkait PETI,” sebutnya. (hen)

Ruangan komen telah ditutup.