Tujuh Anggota DPRD Bersaksi Sidang Suap APBD

Jambi, AP – Tujuh anggota DPRD Provinsi Jambi memberikan kesaksian bagi terdakwa Supriyono pada persidangan di Pengadilan Tipikor Jambi terkait kasus suap pengesahan RAPBD Provinsi Jambi 2018 yang merugikan negara Rp3,4 miliar.

“Hari ini ada tujuh saksi yang akan memberikan keterangannya di persidangan terdakwa Supriono yang juga anggota DPRD Provinsi Jambi dari Fraksi PAN,” kata Herman Kadir, kuasa hukum Supriyono, Rabu (02/05).

Sidang yang digelar di Pengadilan Tipikor Jambi, merupakan sidang lanjutan dengan agenda pemeriksaan saksi.

Ketujuh orang saksi yang akan dihadirkan jaksa Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) ke persidangan, yang semuanya merupakan anggota DPRD Provinsi Jambi.

Ketujuh saksi yang merupakan anggota dewan yang dipanggil sebagai saksi diantaranya lima berasal dari Fraksi Golkar yakni Supardi Nurzain, M Juber, Gusrizal, Popriyanto, dan Ismet Kahar.

Sementara itu dua saksi lainnya merupakan politisi perempuan, yakni Nurhayati dari Fraksi Demokrat dan Yanti Maria dari Fraksi Gerindra.

Penasehat hukum Supriyono, Herman berharap akan terungkap siapa-siapa penerima uang ketok palu pengesahan APBD 2018 dan berharapan akan terungkap siapa-siapa penerima uang ketok palu tersebut.

Lebih Jauh, Jaksa Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menyebut Ketua Fraksi Golkar DPRD Provinsi Jambi, Supardi Nurzain, mau mencari selamat sendiri dalam kasus suap pengesahan RAPBD Provinsi Jambi tahun 2018.

Pernyataan tersebut disampaikan jaksa KPK menanggapi keterangan Supardi saat menjadi saksi untuk terdakwa Supriyono dalam persidangan di Pengadilan Tipikor Jambi, Rabu (2/5/2018) malam.

Menjawab pertanyaan jaksa, Supardi banyak menyatakan tidak tahu mengenai pemberian uang ketok pulu untuk Fraksi Golkar.

Bahkan keterangan yang disampaikan Supardi bertolak belakang dengan keterangan anggota Fraksi Golkar DPRD Provinsi Jambi M Juber, yang juga dihadirkan sebagai saksi.

“Saudara cari selamat sendiri,” kata jaksa KPK kepada Supardi.

“Saudara jangan mengorbankan anggota saudara,” lanjut jaksa KPK.

Jaksa KPK juga sempat memperingatkan Supardi agar ia tidak menyesal di kemudian hari terkait ketetangan yang disampaikannya dalam persidangan.

“Jangan sampai bapak menyesal di kemudian hari. Jujur saja, ini ada dua orang (Supardi dan Juber) yang menerangkan, tapi berbeda. Salah seorang pasti berbohong,” kata jaksa KPK.

Juber mengaku bahwa dirinya diperintah oleh Supardi Nurzain, ketua Fraksi Golkar untuk bertemu dengan Saipudin, mantan Asisten III Setda Provinsi Jambi yang juga menjadi terdakwa dalam kasus ini. Setelah mengambil uang, dia lantas membagikan uang untuk fraksi Golkar.

“Ada pemotongan-pemotongan. Ismet Kahar Rp 99 juta, Popriyanto dan Tartiniah 88 juta. Uang itu diserahkan langsung ke rumah,” ungkap Juber.

Namun setelah ada operasi tangkap tangan (OTT) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), lanjut Jubet, dirinya diminta oleh Supardi untuk disimpan dulu yaitu sebenayal Rp 330 juta.

“Apakah itu masuk jatah untuk saksi,” tanya jaksa KPK Iskandar. “Ya pak,” jawab Juber.

Dia juga mengaku pada saat ada OTT, Supardi memerintai dirinya untuk menyerahkan uang ke KPK. “Dan memerintahkan Ismet Kahar mengambil uang yang telah diserahlan kepada Tartiniah, dan Popriyanto untuk mencari pengacara untul menyerahkan uang,” bebernya.

Selain itu, Juber juga mengatakan bahwa dirinya juga diminta oleh Supardi untuk tidak membawa atau menyeret nama-nama anggota fraksi Golkar lainnya, dengan janji akan menanggung biaya keluarnya.

“Katanya cukup abang saja, dak usah bawa nama yang lain. Nanti kami akan iuran membiayai keluarga abang setiap bulan, kalau anak kami keliah anak abang juga kuliah,” ujar Juber menirulan perkataan Supardi kepada dirinya. tim

Ruangan komen telah ditutup.