Harga TBS Goyang, Petani Khawatir

Sejumlah Asosiasi, Peneliti dan Petani Gelar Diskusi

Sepakat Bangun Kelembagaan dan Mitra Berkesinambungan

Jambi, AP – Ditengah ketiada kepastian harga Tandan Buah Segar (TBS) sawit saat ini, sejumlah asosiasi, para peneliti dan para petani mencoba mencari win-win solution dengan menggelar diskusi bertema “Permasaalahan dan Solusi Kelembagaan Petani Sawit Swadaya”.

Diskusi yang digelar di sebuah hotel yang berada dikawasan Pattimura, Simpang Rimbo, Kota Jambi juga menghadirkan pihak Dinas Perkebunan Provinsi Jambi, Selasa (25/9/2018).

Panca, Kepala Bidang Pengembangan dan Penyuluhan Perkebunan Dinas perkebunan Provinsi Jambi mengakui selain turunnya permintaan pasar dunia terhadap CPO, hal itu juga diakibat kurangnya legalitas, mutu dan kualitas sawit para petani swadaya.

Diantaranya disebutkannya tidak adanya pengakuan legalitas mutu bibit, legalitas lahan serta minimnya sumber daya manusianya dalam pengelolaan lahan sawit.

Memang diakuinya dari sektor sawit memberi kontribusi yang besar terhadap pembangunan secara nasional hampir 170 triliun pertahun, untuk itu menurutnya salah satu solusinya adalah melakukan mitra yang berkesinambungan dengan berbagai pihak salah satunya adalah pihak koperasi.

“Data di Provinsi Jambi perkebunan sawit swadaya berdasarkan data satatistik ada 791 tetapi data citra satelit menyebutkam sudah 1 juta Hektar, dalam hal ini yang harus dikedapankan adalah mitra berkesinambungan,” paparnya.

Selain itu kendala yang mengakibatkan rendahnya harga sawit ditingkat petani juga diakibatkan jarak tempuh dan lokasi perkebunan yang berpencar, menurutnya maka ada perlu sebuah lembaga untuk menghimpun hal tersebut.

Sementara itu Peneliti dari Universitas Jambi, Prof. Zulkifli Alamsyah mengatakan hasil dari penelitian yang dilakukan di lapangan yang diperoleh masaalah harga yang diterima oleh petani swadaya ada beberapa kondisi, seperti kondisi Pratanam hingga penanganan panen dan pasca panen yang bersimulasi kepada harga.

Selain itu rendahnya harga sawit swadaya diakuinya, berdasarkan informasi dari asian agri, mutu sawit swadaya petani hanya memilik presentase mutu 16 persen hingga 18 persen.

“SDM juga menjadi tolak ukur, kita jumpai dilapangan kurangnya pembinan kepada para petani swadaya, bibit yang digunakan juga mempengaruhi nilai harga,” sebutnya.

Senada, diakuinya salah satu solusi selain membentuk kelembagaan adalah dengan membangun mitra berkesinambangunan sebagai salah satu meningkatkan daya saing petani swadaya. (Bdh)

Ruangan komen telah ditutup.