Mencari Populasi Suku Melayu Iranun, Tanjabtim Dikunjungi 12 Tokoh Malaysia

Muarasabak,AP – Sebanyak 12 tokoh dari Malaysia mengunjungi Kabupaten Tanjung Tanjung Jabung Timur (Tanjabtim), tujuannya adalah, untuk menyempurnakan misi dalam mengukuhkan hubungan silaturrahim antara Iranun di Sabah Malaysia dan Melayu Timur di Indonesia.

Dalam kunjungannya di Tanjabtim pada hari Kamis (15/8) siang ini, merupakan kali kedua setelah kedatangannya beberapa tahun lalu. Untuk lokus silaturrahimnya, mereka telah menemukan populasi suku Iranun tersebut di Desa Teluk Majelis, Kecamatan Kuala Jambi. Karena itu pula, mereka menjadwalkan datang di bumi sepucuk nipah serumpun nibung ini.

Sebelum bertolak ke Desa Teluk Majelis, para rombongan 12 tokoh dari Malaysia tersebut menyempatkan diri untuk bersilaturahmi dengan Bupati H Romi Hariyanto di Rumah Dinas Bupati. Kedatangannya langsung disambut hangat dengan makan siang bersama.

Setelah makan siang bersama, rombongan langsung menuju ke Desa Teluk Majelis didampingi oleh Sekretaris Adat Melayu Tanjabtim, Ahmad Suwandi.

Ketika dikonfirmasi, Ahmad Suwandi mengatakan bahwa, kunjungan ini merupakan tindaklanjut dari kunjungan pertamanya beberapa tahun lalu. Dimana waktu itu rombongan tersebut mencari populasi orang bersuku Iranun di Tanjabtim.

“Menurut kabarnya, mayoritas orang suku Iranun ini tidak pulang setelah dijajah oleh Portugis. Dan pada waktu itu lah mereka masuk ke Sabak ini,” katanya.

Untuk mengetahui ciri orang bersuku Iranun ini, lanjutnya, mereka melihat dari pola suku yang masih berpegang teguh dengan budaya pencak silat, gong kulintang, lamaran penganten, senjata yang ada bahkan kesamaan dalam memasak makan.

Sementara itu, Ketua BKI suku Iranun Sabah Malaysia, Haji Masrin Haji Hassin memaparkan bahwa, tujuan ini lakukan untuk mempereratkan kembali hubungan silaturrahmi antara suku bangsa Iranun dengan suku Melayu Timur di Jambi, khususnya di Kabupaten Tanjab Timur dan Barat. Karena suku bangsa Iranun ini memiliki hubungan darah dan sejarah yang panjang.

Menurut sejarah, sambungnya, dari Sultan Mahmud III pernah meminta bantuan dari Raja Iranun Temasuk untuk mengusir Belanda dari Tanjung Pinang pada 1786 lalu. Dan pada Mei 1787, sejumlah 30 kapal penjajah dengan kira kira 1,000 orang angkatan perang Iranun ikut menyerang Belanda di Tanjung Pinang. Belanda kalah dan bertolaj ke Singapura. Kemudian Sultan Mahmud III memindahkan pusat kerajaannya ke Lingga.

Menurut Tuhfat Al nafis karangan Raja Ali Haji, sebagian angkatan Iranun itu pulang ke Tempasuk, tetapi sebagian lagi tidak pulang lalu ikut berpindah ke Reteh, Ayer Hitam, Enok dan Kuala Tungkal serta Muara Sabak. Kemudian turunan Iranun tersebut dikenali sebagai suku Melayu Timur.

Antara bukti bukti yang menunjukkan keterkaitan antara Iranun dan suku melayu Timur inj ialah alat senjata seperti kampilan, sundang, tabas dan sebagainya. Selain itu, adat resam seperti mandi air laut, makan di kelong dan sebagainya.

Dari segi kosakata Iranun yang terdapat dalam bahasa melayu Timur seperti, degan (banjir) busau ( pelahap) tonong, pamanai ( bendera kecil) apu ( nenek) baie ( puteri) pingkak (cacat kaki) dan sebagainya. Inilah antara fakta sejarah dan budaya yang boleh mengaitkan Iranun di Sabah Malaysia dan Mindanao di Selatan Filipina.

“Jadi tujuan, lawatan kami adalah untuk mengeratkan lagi hubungan antara Iranun di Sabah Malaysia dan melayu Timur di Jambi dan Riau,” katanya.

“Kami berharap hubungan bilateral antara rakyat di kedua buah negara yang memberikan manfaat dari segi budaya dan juga ekonomi,” lanjutnya.

Sepanjang berada di Jambi, cetusnya, delegasi berkunjung ke Tanjung Jabung Timur dan mengadakan pertemuan dengan Lembaga Adat Melayu (Lam) Tanjung Jabung Timur dan komuniti Melayu Timur di Kuala Jambi dan Kampung Laut. “Mereka juga mengadakan pertemuan silaturrahmo dengan sejumlah tokoh Melayu Timur di Jambi,” pungkasnya.

Penulis : Hipni

Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.