Penulis adalah Ramadhani, Sekretaris JMSI Provinsi Jambi
PRESTASI itu tak selalu lahir dari pita gunting dan tenda megah. Kadang datang diam-diam, dalam bentuk selembar SK PPPK Penuh Waktu yang digenggam erat oleh ribuan tenaga honorer di Batang Hari.
Bertahun-tahun mereka mengabdi tanpa kepastian. Mengajar di kelas, mencatat data di bawah terik, menjaga kantor sampai malam, tapi status tetap menggantung.
Bupati Muhammad Fadhil Arief memutus mata rantai itu. Mengangkat hampir 5 ribu orang bukan sekadar formalitas birokrasi. Seorang ibu guru dan tenaga kesehatan akhirnya bisa bilang ke anaknya, “Nak, kuliahmu aman.” Petugas lapangan yang bertahun-tahun menahan malu saat ditanya, “Kerja di mana?” kini bisa menjawab dengan kepala tegak. Ketika martabat manusia kecil diangkat, daerah itu sesungguhnya sedang naik kelas.
Di tempat lain, honorer masih terlantung-lantung hidupnya. Masih sebagai PPPK paruh waktu. Gaji tak menentu, tiap tahun deg-degan nunggu perpanjangan. Kerja full time, ngabdi belasan tahun. Anak mau kuliah jadi mikir tujuh keliling. Mau kredit takut nunggak.
Lalu lihat Muara Bulian malam ini. Dulu ibukota Batang Hari hanya sampai jam sore, setelah itu sepi, dan cepat tidur. Sekarang wajahnya berubah. Lampu jalan tak lagi sekadar pajangan, taman-taman hidup dengan orang duduk ngobrol, trotoar kembali jadi milik pejalan kaki. Kota elok bukan soal cat baru di gedung kantor bupati. Kota elok adalah ketika warganya berani keluar rumah tanpa rasa was-was.
Ibu-ibu dan bapak-bapak berani jualan di sudut alun-alun tanpa dikejar Satpol PP. Fadhil paham logika sederhana ini. Ruang publik nyaman akan memanggil ekonomi untuk datang sendiri. UMKM kecil dulu jualan sembunyi-sembunyi kini berani gelar lapak, dagangan laku, dapur ngepul. Semangat bertahan hidup tumbuh dengan cinta.
Dan di tengah kota yang mulai bernyawa itu, ada satu titik terang yang paling jujur. Adalah lampu stadion alun-alun yang menyala sampai malam. Kedengarannya sepele untuk ukuran proyek daerah.
Tapi coba tanya anak muda Batang Hari. Habis kerja, habis pulang sekolah, mereka punya tempat untuk lari, untuk jatuh bangun, untuk teriak gol. Lapangan itu adalah ruang ketiga setelah rumah dan kantor. Tempat karakter ditempa, keringat dicucurkan, persaudaraan dirajut. Fadhil Arief sendiri rajin turun main bola di sana. Pemimpin yang berani berkeringat bareng rakyat adalah pemimpin yang tak menciptakan jarak.
Fadhil Arief seperti mengisyaratkan semangat bahwa lampu stadion itu pengingat anak muda Batang Hari punya masa depan yang terang, asal diberi ruang untuk bermain.
Dari SK honorer ke PPPK penuh waktu, wajah kota elok, lampu stadion tak padam. Tiga hal ini tampak tak saling terkait, tapi sebenarnya satu benang merahnya yaitu Fadhil Arief membuktikan pemimpin itu memilih prioritas tepat sasaran. Yang dikerjakan sampai ke denyut nadi.








