Oleh: Ramadhani, Sekretaris JMSI Provinsi Jambi
SAYA tahu persis siapa Ucok. Terutama cara menunduk waktu dengar cerita warga. Nggak banyak wartawan mau duduk di beranda rumah reot sampai hujan reda. Tapi Ucok mau. Nama asli Ucok adalah Syarifuddin Nasution.
Dia anak Sibolga. Logat kerasnya masih kebawa sampai sekarang. Beberapa tahun lalu, takdir membawa Ucok nikah sama perempuan Mudung Darat, Muaro Jambi. Meski Sibolga kampung halaman. Tapi Mudung Darat jadi rumah. Tanah untuk menanam hidup.
Orang Jakarta kenal Ucok sebagai penulis berita tajam di Viva, media nasional. Akan tetapi di Mudung Darat bukan pencari berita. Dia menantu. Dia tetangga yang kalau lewat selalu nanya kabar kebun dulu, bukan kabar politik.
Karir dimulai dari Jambi Ekspres. Liputan investigasi udah jadi darah daging Ucok sampai sekarang. Sampai di Viva pun begitu. Dia pernah telusuri kenapa Sungai Batang Hari makin keruh padahal dulu jernih. Dia kejar kenapa jalan desa rusak. Dia datangi rumah ibu-ibu yang atapnya tinggal tulang, sampai akhirnya ada yang mau bantu perbaiki.
Berita Ucok memang jarang naik headline. Tapi buat warga, itu nyawa. Satu tulisan Ucok bisa berarti.
Asal tahu saja, gaya kritis telah ditanam sejak masih di organisasi PMII, ngajarin satu hal yang nggak pernah dia lepas. Bukan ke penguasa. Namun ke orang yang suaranya paling kecil.
Ucok punya relasi sampai provinsi dan nasional. Temannya pejabat, bahkan Gubernur Jambi Al Haris pun tahu dengannya. Orang yang bisa ubah kebijakan. Namun Ucok nggak pernah pakai itu buat dirinya.
Ucok tetap rendah hati dan mudah bergaul. Petani hingga pemuda, semua bisa ngobrol sama dia sampai lupa kalau di depannya wartawan nasional.
Makanya waktu dengar dia mau maju Pilkades, saya nggak kaget. Wartawan berintegritas itu telah capek jadi pelapor luka. Ucok mau jadi tukang pengobatnya.
Relasinya yang begitu kuat dipakai buat nyambungin Mudung Darat ke program yang selama ini lewat di atas kepala warga.








