• REDAKSI
  • Pedoman Media Siber
Sabtu, April 4, 2026
Aksipost.com
  • HOME
  • HEADLINE
  • HUKRIM
  • NASIONAL
  • ADVERTORIAL
  • DAERAH
  • DEMOKRASI
  • EKONOMI
  • MILENIAL
  • PENDIDIKAN
No Result
View All Result
  • HOME
  • HEADLINE
  • HUKRIM
  • NASIONAL
  • ADVERTORIAL
  • DAERAH
  • DEMOKRASI
  • EKONOMI
  • MILENIAL
  • PENDIDIKAN
No Result
View All Result
Aksipost.com
No Result
View All Result
APBD-P Tak Disahkan, Penyelenggara Sarolangun Expo Terpaksa Ngutang

Negara-negara Masuk Perangkap karena Gagal Bayar Utang

30 November 2021
in HEADLINE

UGANDA dikabarkan gagal bayar utang ke China. Mengutip Reuters, Selasa (30/11), utang yang gagal bayar itu senilai US$200 juta atau setara Rp2,8 triliun (kurs Rp14.335 per dolar) ke China.

Akibat gagal bayar Uganda kemungkinan akan kehilangan salah satu bandara internasional karena digunakan untuk melunasi utang. Uganda sendiri telah terjerat utang selama belasan tahun ke China.

Berita Lainnya

Kata Profesor Rizal Djalil Mantan Ketua BPK RI, Balada Bank Jambi: Bank “Tidak Baik-Baik Saja”

Kekhawatiran Ketum PPP Mardiono Jika Fadhil Arief VS Hurmin Akhirnya Terjawab, Justru Jadi Model Harapan Daerah Lain

Bank Jambi di Ambang Kebangkrutan, Sekalipun Uang Rp1000 Triliun Diserak Depan Kantor

Utang digunakan untuk membangun sejumlah infrastruktur termasuk jalan dan pembangkit listrik. Gagal bayar utang Uganda terhadap China itu pun memantik kritik.

Sejumlah negara barat menyebut China memang sengaja menjebak negara miskin dengan utang sehingga tidak mampu membayar.

Lantas, negara miskin mana saja yang telah jatuh ke ‘perangkap utang’ China?

1. Zimbabwe

Zimbabwe dikabarkan memiliki utang senilai US$4 juta atau setara Rp57,3 miliar. Utang digunakan untuk melawan pemberontakan di negara tetangga, Uganda dan Rwanda.

Presiden Zimbabwe Laurent Kabali menggunakan dana utang itu untuk mengirim pasukan hingga membeli peralatan bersenjata guna memberangus pemberontak.

Namun sayang, akibat utang itu, Zimbabwe harus mengikuti perjanjian China untuk menerima yuan sebagai mata uang di Zimbabwe pada Januari 2016. Ini merupakan konsekuensi atas gagal bayar utang Zimbabwe kepada China.

Diketahui, Zimbabwe memiliki 9 mata uang sebagai alat perdagangan yang sah yakni dolar AS, dolar Australia, rand Afrika Selatan, pula Botswana, euro Eropa, poundsterling Inggris, yen Jepang, yuan China, dan rupee India.

2. Sri Lanka

Mengutip CNN.com, Sri Lanka harus kehilangan dua infrastruktur kebanggannya yakni bandara dan pelabuhan karena harus menyerahkannya ke tangan China.

Nasib nahas itu terjadi pada 2017. SriLanka harus melepas pelabuhannya kepada China karena tidak mampu membayar utang ke China.

Sebagai pengingat, China memang menggelontorkan utang US$1,5 miliar ke Sri Lanka pada 2010 lalu untuk membangun Pelabuhan Hambantota.

Pada tahun yang sama, China menggelontorkan dana sebesar US$200 juta untuk pembangunan bandara internasional kedua di negeri tersebut.

Setelah gagal bayar, akhirnya Sri Lanka harus menyerahkan pelabuhan tersebut dengan kontrak untuk melayani perusahaan China selama 99 tahun.

Selain jerat utang itu, China juga masih memiliki piutang ke Sri Lanka sebesar US$272 juta.
Piutang digunakan untuk pembangunan jalur kereta api pada 2013. China juga memiliki piutang lebih dari US$1 miliar untuk pembangunan Colombo Port City project.

3. Nigeria

Nigeria, negara di Teluk Guinea, memiliki sejumlah utang kepada China. Utang dihimpun untuk pembangunan infrastruktur. Utang tersebut dikabarkan membelenggu Nigeria.

Pasalnya, pemerintah China mensyaratkan pembangunan infrastruktur di negeri tersebut harus menggunakan bahan baku dan buruh kasar asal China.

Padahal, Nigeria merupakan negara produsen minyak bumi terbesar di benua Afrika. Energi fosil tersebut bahkan memberikan 60 persen pemasukan kepada negara dan menopang 90 persen pertukaran mata uang asing di negara tersebut.

“Kami memiliki cadangan gas dan minyak yang sangat besar di Nigeria,” kata KPMG Partner Nigeria di Lagos Adewale Ajayi, dikutip dari CNN.com, Selasa (30/11).

4. Uganda

China dikabarkan telah mengakuisisi kepemilikan Bandara Internasional Entebbe di Uganda. Perjanjian utang Uganda sendiri tidak pernah diumumkan kepada publik, sehingga sulit untuk diketahui.

Walau begitu, pejabat hukum Joel Ssenyonyi sebagai komite penyelidikan parlemen Uganda mengatakan utang tersebut memberikan hak kepada Exim bank, bank pemberi pinjaman, untuk mengatur anggaran tahunan bandara tersebut.

Namun demikian, Kedutaan Besar China di Uganda membantah tuduhan tersebut sebagai tindakan jahat untuk merusak hubungan baik antar kedua negara.

Kedutaan pun mengakui pihaknya tidak pernah mengambil satupun proyek di Afrika sebagai ganti akibat gagal bayar utang.

Uganda sendiri dikabarkan akan menegosiasikan ulang pinjamannya melalui Menteri Keuangan Uganda Matia Kasaija.

ShareTweetSend
Previous Post

Indonesia Sebut Tak Akan Meninggalkan Industri Migas

Next Post

Desember 2021: Harga Referensi CPO Naik

Related Posts

Kata Profesor Rizal Djalil Mantan Ketua BPK RI, Balada Bank Jambi: Bank “Tidak Baik-Baik Saja”

Kata Profesor Rizal Djalil Mantan Ketua BPK RI, Balada Bank Jambi: Bank “Tidak Baik-Baik Saja”

2 April 2026
Kekhawatiran Ketum PPP Mardiono Jika Fadhil Arief VS Hurmin Akhirnya Terjawab, Justru Jadi Model Harapan Daerah Lain

Kekhawatiran Ketum PPP Mardiono Jika Fadhil Arief VS Hurmin Akhirnya Terjawab, Justru Jadi Model Harapan Daerah Lain

31 Maret 2026
Bank Jambi di Ambang Kebangkrutan, Sekalipun Uang Rp1000 Triliun Diserak Depan Kantor

Bank Jambi di Ambang Kebangkrutan, Sekalipun Uang Rp1000 Triliun Diserak Depan Kantor

30 Maret 2026
Matang di DPR RI Komisi Perbankan, Usman Ermulan Sebut Bank Jambi Sudah Berada di Ambang Kebangkrutan

Matang di DPR RI Komisi Perbankan, Usman Ermulan Sebut Bank Jambi Sudah Berada di Ambang Kebangkrutan

29 Maret 2026
Usman Ermulan Sudah Membuktikan Sendiri, Kini Dorong UIN STS Bentuk BPR Syariah

Usman Ermulan Sudah Membuktikan Sendiri, Kini Dorong UIN STS Bentuk BPR Syariah

13 Maret 2026
Imbas Perang Timur Tengah, Harga Minyak Dunia Melonjak, Ekonom Dorong Pemerintah Manfaatkan Energi Basis Sawit

Imbas Perang Timur Tengah, Harga Minyak Dunia Melonjak, Ekonom Dorong Pemerintah Manfaatkan Energi Basis Sawit

6 Maret 2026
  • REDAKSI
  • Pedoman Media Siber

© 2024 PT Aksi Indah Pratiwi. All Rights Reserved. | Aksipost.com

No Result
View All Result
  • HOME
  • HEADLINE
  • HUKRIM
  • NASIONAL
  • ADVERTORIAL
  • DAERAH
  • DEMOKRASI
  • EKONOMI
  • MILENIAL
  • PENDIDIKAN

© 2024 PT Aksi Indah Pratiwi. All Rights Reserved. | Aksipost.com

Login to your account below

Forgotten Password?

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In