Oleh: Ramadhani, Sekretaris JMSI Provinsi Jambi
MUHAMMAD Fadhil Arief tak sekadar membangun, tapi benar-benar menghidupkan kabupaten Batang Hari.
Ia datang saat tanah itu masih lesu pada 2020. Pertumbuhan ekonomi minus 0,43 persen. Kondisi keuangan daerah sedang tidak baik-baik saja. Utang pemkab Rp145 miliar. Tambah lagi, refocusing anggaran untuk penanganan Covid-19. Menuntut Fadhil berpikir keras, inovasi, dan kerja sama.
Fadhil Arief percaya, Batang Hari tak boleh menyerah. Nadinya juga, 82 persen warga adalah petani, sawah dan sawit. Di tangan petani, harapan ini masih ada.
Pasca dilantik 26 Februari 2021, ia tak memilih duduk di balik meja. Fadhil Arief buka pintu rumah dinas. Ia duduk lesehan, mendengar keluh kesah petani, ibu yang anaknya butuh beasiswa, hingga pedagang kecil yang warungnya butuh modal. Dari mendengar, lahir kebijakan. Dari aspirasi, lahir solusi.
Utang Rp145 miliar dicicil sembari 36 program unggulannya berjalan di tengah anggaran yang tersedot oleh Covid-19, ia tata dengan hati-hati.
Lewat programnya, jalan usaha tani dibuka, benih unggul dibagikan, penyuluh turun ke lapangan. Hasilnya tahun 2022, ekonomi Batang Hari melesat.
Ribuan tenaga honorer yang bertahun-tahun menunggu kepastian, ia angkat menjadi PPPK. Fadhil Arief membangun daerah berarti juga memanusiakan manusianya. Guru bisa mengajar dengan tenang, tenaga kesehatan bisa melayani tanpa cemas kontrak habis. Dari ruang kelas sampai puskesmas, ada senyum baru karena status yang pasti. Total PPPK yang dilantik pada tahun 2025 saja mencapai lebih dari 2.800 orang
Data terbaru menunjukkan pertumbuhan ekonomi kembali naik dari 3,42 persen menjadi 5,21 persen. Kabar yang paling melegakan angka kemiskinan turun dari 8,63 persen menjadi 8,27 persen.
“Sebelumnya angka kemiskinan di Batang Hari memang tinggi, namun saat ini menjadi contoh keberhasilan pembangunan di Provinsi Jambi,” kata Fadhil Arief, pada April 2026.
Setiap koma penurunan kemiskinan artinya ada ratusan keluarga yang dapurnya kembali mengepul, anak-anak bisa terus sekolah, dan orang tua yang tidak lagi cemas soal makan besok.
Bagi Fadhil Arief, tak boleh ada warga Batang Hari yang takut ke rumah sakit karena tak punya biaya. Ia hadirkan sampai ke desa. Lewat Program Dokter Tangguh, dokter dan mobil layanan kesehatan bergerak ke dusun-dusun terpencil. Yang jauh tak lagi terabaikan. Yang sakit tak lagi menunggu. Program ini jadi penyambung nyawa, melengkapi UHC yang sudah ia perjuangkan hingga 99,92 persen warga terlindungi BPJS Kesehatan. Tahun 2022, Batang Hari meraih UHC Award dari Wakil Presiden RI.
Indeks Pembangunan Manusia Batanghari meningkat dari 73,12 persen pada 2024 menjadi 73,94 persen pada 2025. Tingkat pengangguran terbuka juga turun dari 4,9 persen pada 2024 menjadi 4,21 persen pada 2025.
Asal tahu saja, Fadhil Arief itu bukan pemimpin karbitan. Dia meniti dari bawah. Tahu persis rasanya mengurus KTP di kecamatan, rasanya jalan rusak yang dilalui warga tiap hari. Karena pernah jadi birokrat yang melayani, ia jadi Bupati yang memahami.
Di tengah semua capaian, Fadhil Arief bukanlah pemimpin yang sempurna. Ia memilih merunduk. Sebagai manusia, tentu ada khilaf dan kekurangan. Kesempurnaan hanyalah milik Allah SWT. Yang bisa ia janjikan adalah ikhtiar tanpa henti, kerja dengan hati, dan keberanian untuk terus belajar dari rakyat. Karena jabatan itu amanah, dan amanah itu akan diminta pertanggungjawabannya bukan hanya di dunia.
Kini Batang Hari tak lagi sama. Utang Rp145 miliar lunas dibayar. Minus 0,43 persen berubah jadi tumbuh 5,21 persen. Kemiskinan turun, pengangguran berkurang, IPM naik, PPPK diangkat, warga tak takut berobat. Batang Hari bukan proyek lima tahunan bagi Muhammad Fadhil Arief. Ia rumah. Ia keluarga. Ia janji yang harus ditunaikan, sampai napas terakhir pengabdian.








