• REDAKSI
  • Pedoman Media Siber
Sabtu, Mei 9, 2026
Aksipost.com
  • HOME
  • HEADLINE
  • HUKRIM
  • NASIONAL
  • ADVERTORIAL
  • DAERAH
  • DEMOKRASI
  • EKONOMI
  • MILENIAL
  • PENDIDIKAN
No Result
View All Result
  • HOME
  • HEADLINE
  • HUKRIM
  • NASIONAL
  • ADVERTORIAL
  • DAERAH
  • DEMOKRASI
  • EKONOMI
  • MILENIAL
  • PENDIDIKAN
No Result
View All Result
Aksipost.com
No Result
View All Result
Pasangan Fachrori-Syafril

Pasangan Fachrori-Syafril. Foto: Istimewa

Feodalisme Gaya Baru Pasangan Fachrori-Syafril

24 September 2020
in DEMOKRASI, HEADLINE

Oleh Nurul Fahmy

Berbeda dengan dua kandidat lainnya, pasangan Fachrori Umar dan Syafril Nursal selalu memilih outfit yang tidak biasa dalam penampilannya di hadapan publik pada momen pilkada ini. Fachrori berbusana raja, Syafril Nursal menggunakan baju panglima.

Berita Lainnya

Sesama Tersangka Sejak Desember, Varial Dibui Polda Jambi, Amrizal Ditangani Polda Sumbar Masih Duduk Empuk, Tokoh Kerinci: Jangan Pilih Kasih

Pemprov Jambi Sibuk Minta Kenaikan TPP, Ivan Wirata: Habis Belanja Daerah 

Warga RT 17 Simpang Rimbo Apresiasi Ketua DPRD Kota Jambi, Pak RT: Tidak Lebih 3 Hari Langsung Rigit Beton

Ini adalah politik simbol. Busana mereka bukan busana adat. Tapi busana raja. Adat adalah kebiasaan yang tumbuh sewajarnya dalam masyarakat. Dengan kostum tersebut mereka menyimbolkan diri sebagai raja atau penguasa. Dengan demikian mereka menunjuk rakyat Jambi sebagai jelatanya.

Menempatkan diri sebagai raja dan panglima dalam proses demokrasi pemilihan kepala daerah (pilgub) seperti hari ini adalah cerminan watak feodalisme. Kepemimpinan politik di birokrasi pemerintahan itu harusnya bersih dari anasir-anasir feodal.

Dalam cara pandang feodal, relasi antara raja dan rakyatnya adalah relasi kuasa. Keputusan tertinggi ada pada raja. Rakyat hanya dijadikan objek kekuasaan. Semua harus tunduk dan patuh. Feodalisme adalah sistem terburuk yang pernah ada. Feodalisme menyuburkan KKN.

Istilah ini mengadopsi praktik-praktik kuasa tuan tanah dengan para budaknya di Eropa sana sebelum Abad Pertengahan. Dalam praktiknya, feodalisme ini sudah tumbuh subur jauh sebelum itu. Masyarakat feodal adalah masyarakat yang sakit.

Di Indonesia, feodalisme secara tidak langsung sudah dihapus sejak negara ini memilih demokrasi sebagai sistem bernegaranya. Menggunakan simbolisasi raja-raja–padahal mereka bukan raja, bukan ninggrat– adalah gejala feodalisme gaya baru.

Pilihan busana raja raja itu juga menujukkan gejala “post power syndrom”. Fachrori Umar bukan lagi Gubernur Jambi. Dia bukan penguasa lagi. Dia sudah cuti. Begitu pula Syafril Nursal. Jenderal polisi ini bukan lagi komandan yang biasa pegang tongkat panglima. Dia seharusnya sudah tidak aktif lagi. Di depan nama pangkatnya, harus melekat istilah purnawirawan.

Sama seperti kandidat lainnya, mereka saat ini hanya sipil biasa yang siap menghamba kepada rakyat. Apabila dipilih. Bukan raja yang memerintah agar dipilih. Tak ada raja yang dipilih rakyat. Raja itu ditunjuk oleh kerabat istana sesuai garis keturunannya.

Menggunakan simbol raja-raja dalam proses demokrasi ini adalah antitesis dari demokrasi itu sendiri. Feodalisme dan demokrasi adalah dua hal yang berbeda dan bertentangan.

Seseorang mengatakan, pilihan busana pasangan itu adalah bentuk penghargaan kepada adat istiadat. Itu kebanggaan mereka sebagai masyarakat Melayu Jambi, kata seseorang.

Syafril Nursal dipersiapkan untuk memimpin misi penyelamatan Jambi dari ancaman-ancaman persoalan-persoalan fundamental yang menghalangi jalannya pemerintahan di Provinsi Jambi.

Benarkah? Penyelamatan? Penghargaan? Persoalan fundamental? Argumen apa ini?

Bangga kepada adat itu tidak mesti ditunjukkan dengan menggunakan busana adat. Apalagi busana raja raja. Sekali lagi itu politik simbol. Itu wujud watak feoadalistik.

Kebepihakan pada adat, apalagi sebagai kandidat kepala daerah, harusnya diwujudkan pada kebijakan, program yang tertuang dalam visi misi calon. Sekarang, mana visi misi Fachrori Umar dan Syafril Nursal yang menujukkan kebepihakan pada adat istiadat Jambi. Itu yang harus dipertanyakan. Khusus kepada Fachrori sebagai petahana maupun sebagai cakada. (Penulis adalah Jurnalis).

ShareTweetSend
Previous Post

Hakim Tolak Eksepsi Anak Buah Zumi Zola

Next Post

Ketua KPK Terbukti Langgar Kode Etik

Related Posts

Sesama Tersangka Sejak Desember, Varial Dibui Polda Jambi, Amrizal Ditangani Polda Sumbar Masih Duduk Empuk, Tokoh Kerinci: Jangan Pilih Kasih

Sesama Tersangka Sejak Desember, Varial Dibui Polda Jambi, Amrizal Ditangani Polda Sumbar Masih Duduk Empuk, Tokoh Kerinci: Jangan Pilih Kasih

9 Mei 2026
Pemprov Jambi Sibuk Minta Kenaikan TPP, Ivan Wirata: Habis Belanja Daerah 

Pemprov Jambi Sibuk Minta Kenaikan TPP, Ivan Wirata: Habis Belanja Daerah 

8 Mei 2026
Warga RT 17 Simpang Rimbo Apresiasi Ketua DPRD Kota Jambi, Pak RT: Tidak Lebih 3 Hari Langsung Rigit Beton

Warga RT 17 Simpang Rimbo Apresiasi Ketua DPRD Kota Jambi, Pak RT: Tidak Lebih 3 Hari Langsung Rigit Beton

7 Mei 2026
Kasus Injak-injak Dunia Pendidikan Jadi Tersangka, Varial Adhi Dibui, Amrizal Masih Ngantor di DPRD

Kasus Injak-injak Dunia Pendidikan Jadi Tersangka, Varial Adhi Dibui, Amrizal Masih Ngantor di DPRD

5 Mei 2026
Ivan Wirata Desak Verifikasi Ulang 90 Ribu Peserta PBI BPJS

Dokter Muda Wafat saat Mengabdi, Ivan Wirata Tuntut Keadilan

4 Mei 2026
Jejak Fadhil Arief Bangkitkan Batang Hari, Dari Lesu ke Bernyawa

Jejak Fadhil Arief Bangkitkan Batang Hari, Dari Lesu ke Bernyawa

1 Mei 2026
  • REDAKSI
  • Pedoman Media Siber

© 2024 PT Aksi Indah Pratiwi. All Rights Reserved. | Aksipost.com

No Result
View All Result
  • HOME
  • HEADLINE
  • HUKRIM
  • NASIONAL
  • ADVERTORIAL
  • DAERAH
  • DEMOKRASI
  • EKONOMI
  • MILENIAL
  • PENDIDIKAN

© 2024 PT Aksi Indah Pratiwi. All Rights Reserved. | Aksipost.com

Login to your account below

Forgotten Password?

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In